Sabtu, 11 Desember 2010

5 ASAS DALAM HIJRAH

Hijrahnya Rasulullah Saw dan para sahabatnya ke kota Madinah membawa perubahan besar, menghentakkan perhatian dunia, menggoncang altar sejarah umat manusia. Perubahan drastis terjadi; arus perubahan itu pada utamanya terletak dalam semangat saling tolong menolong, meniupkan angin persatuan, keadilan, membungkam suara perpecahan, fanatisme etnis, suku, dan ras, semuanya bersatu di bawah bendera Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah.
Tatkala Nabi Saw tiba di kota Madinah, setidaknya beliau meletakkan lima asas kemasyarakatan untuk menopang kekuatan umat Islam dengan sokongan kaum Muhajirin dan Anshar. Kelima asas yang dibangun oleh beliau adalah:

1.      Al-Ikha (persaudaraan)
Rasulullah saw menegakkan masyarakat Islam atas dasar persaudaraan yang kokoh dan kuat. Karenanya kaum muslimin itu bersaudara.Dalam Islam, persaudaraan tidak mengenal batas-batas teritorial, geografis, suku, etnis, ras, maupun warna kulit.  Ppersaudaraan dalam Islam senantiasa mengikat dan mempersatukan tujuan serta memperkuat barisan, mengajak kepada kerjasama, gotong royong, bahu membahu atas dasar kebaikan dan kasih sayang.
Imam Bukhari meriwayatkan, setiba kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, Rasulullah Saw mempersaudarakan Abdur Rahman bin Auf dengan Sa`ad bin Ar-Rabi`. Setelah dipersaudarakan Sa`ad berkata kepada Abdur Rahman, “Saya termasuk orang Anshar yang berharta banyak. Itu hendak saya bagi dua separoh untukku dan separo untuk Anda. Saya juga mempunyai dua istri, lihat dan tunjuklah mana di antara dua perempuan itu yang Anda sukai, ia akan kucerai dan bila iddah-nya telah selesai silakan Anda nikahi”. Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkati keluarga dan harta Anda. Tunjukkan saja padaku di mana pasar tempat Anda berniaga.” Atas permintaan Abdur Rahman itu Sa`ad menunjuk pasar Qainuqa`. Beberapa waktu kemudian ternyata Abdur Rahman telah mempunyai kelebihan bahan makanan seperti keju (jubn) dan minya makan (samn).
Pada suatu hari ia datang menghadap Rasul. Beliau bertanya, “Apakah masih kesepian?” Abdur Rahman menjawab, “Saya sudah beristri.” “Berapa mahar mas kawin yang engkau berikan?” “Emas sebesar biji kurma.”
Masih banyak berita-berita riwayat yang menunjukkan betapa besar perhatian kaum Anshar terhadap saudara-saudaranya dari kaum Muhajirin. Dengan kesadaran tinggi dan persaudaraan yang tulus mereka rela mengorbankan sebagian kekayaan mereka untuk membantu kehidupan kaum Muhajirin.

2.      Al-Musawah (persamaan derajat).
Rasul Saw menegakkan masyarakat di atas kaidah persamaan yang sempurna antar umat manusia, bukan hanya di antara umat Islam, tapi juga di antara elemen masyarakat di luar komunitas Islam. Tidak ada kelebihan antara seseorang dengan lainnya, tidak ada kelebihan dan keistimewaan antara si kulit putih dengan si kulit hitam, tidak ada kelebihan antara orang arab dengan bukan arab.
Dengan semangat persamaan pula, Nabi menghapus diskriminasi yang sebelumnya membelenggu kehidupan umat manusia. Dalam salah satu kesempatan beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan semangat jahiliyah, kebanggaan mereka dengan nenek moyangnya, karena kalian berasal dari Adam dan Hawa, dan sesungguhnya semulia-mulia kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (HR. Baihaqi)

3.      At-Ta`awun (Saling tolong-menolong).
Rasulullah Saw mengetengahkan asas kehidupan masyarakat setelah hijrah atas sikap tolong-menolog. Tolong menolong tersebut untuk kebaikan dan keutamaan, menjauhi hal yang haram, membasmi kemunkaran yang bercokol, dan mengenyahkan kebatilan serta kemusyrikan, menjaga bangunan tubuh masyarakat Islam dari penyakit-penyakit masyarakat yang bisa membawa pada kehancuran dan bercerai-berai.

4.      At-Tasamuh (toleransi).
Masyarakat Islam ditegakkan atas dasar toleransi dalam makna dan cakupan yang luas. Islam menetapkan toleransi dan penghormatan terhadap keyakinan dan kepercayaan umat lain, serta tidak seorang pun yang dapat memaksakan kepercayaan dan agama Islam pada orang lain selaras dengan firman Allah:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)
Salah satu fenomena yang cukup menghebohkan dunia Islam saat ini adalah adanya sekelompok umat yang aktif mengkafirkan kelompok lainnya. Mereka memandang bahwa orang-orang yang ada di luar kelompoknya, sebagai kafir, murtad, dan keluar dari Islam. Setiap kali berbeda pendapat dengan orang lain, mereka dengan mudah menyerang lawan bicaranya itu dengan julukan kafir. Seolah-olah di dunia ini hanya dirinya saja yang berhak menganut agama Islam, sedangkan orang lain sangat rentan untuk menjadi kafir.
Maka dengan semangat hijrah, kita dididik untuk menjadi umat yang toleran dalam perbedaan pendapat dan pandangan, tidak mudah menjatuhkan vonis kafir, bid`ah, dan syirik kepada pihak lain sesama umat Islam.

5.      Al-A`dalah (keadilan).
Rasulullah saw menegakkan masyarakat Islami atas dasar keadilan yang luas, baik terhadap kawan maupun lawan, keadilan yang tidak pandang bulu, pangkat dan kedudukan.
Keadilan yang dibangun oleh Rasul adalah keadilan yang memberikan hak sesuai porsinya; keadilan yang memandang kaum lemah itu kuat karena ada hak yang harus diterimanya dan memandang orang-orang kuat yang merampas dan menginjak-injak haknya orang lain itu lemah. Suara keadilan telah digemakan oleh Allah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An-Nahl: 90)
Allah telah menyuruh kita berbuat adil, tidak cukup dengan adil saja, namun dengan keadilan itu, kita harus berbuat kebajikan. Keadilan yang menjadi asas pembangunan dan penyemaian nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial dari peristiwa hijrah meniscayakan kesejajaran seseorang di hadapan Allah sehingga kehidupan umat Islam menjadi sentosa karenanya.
Dengan kekuatan asas yang dipancangkan oleh Rasulullah, lengkaplah unsur-unsur yang diperlukan bagi terbentuknya masyarakat yang beriman, bertakwa, bertauhid, yang berdiri gagah di atas puing-puing reruntuhan Jahiliyah. Masyarakat yang sanggup menghadapi gelombang-gelombang zaman dalam sejarah umat manusia. Masyarakat itu telah tiada, namun misi kebenaran Allah, Islam, dan tugas sejarah yang pernah diembannya tak pernah hilang.
Yang pasti adalah masa kehidupan umat manusia akan cerah ceria bila kemunkaran dan kebatilan telah sirna. “Dan katakanlah bila kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra: 81)

Rabu, 08 Desember 2010

7 KIAT TINGGALKAN MAKSIAT


Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat. “Tiada hari tanpa maksiat”, kata ini mungkin lebih tepat untuk suasana hidup di zaman ini. Di kantor, di kampus, di jalan, bahkan di rumah sendiri, fasilitas maksiat tersedia.
Di kantor, godaan maksiat ada di mana-mana. Teman, orang luar, bahkan diri sendiri. Jika tidak karena iman, bukan mustahil akan mudah bermaksiat di hadapan Allah baik dengan terang-terangan atau tersembunyi. Kesempatan terbuka luas. Jadi kasis kita bisa memanipulasi uang, jadi pemasaran kita bisa memanipulasi dan korupsi waktu. 
Televisi kita 24 jam menyediakan tontonan penuh fitnah dan umbar aurat. Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat.
Memang, meninggalkan maksiat adalah pekerjaan yang tidak ringan. Ia lebih berat daripada mengerjakan taat (menjalankan yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya), karena mengerjakan taat disukai oleh setiap orang, tetapi meninggalkan syahwat (maksiat) hanya dapat dilaksanakan oleh para siddiqin (orang-orang yang benar, orang-orang yang terbimbing hatinya).
Terkait dengan hal tersebut Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang yang berhijrah dengan sebenarnya ialah orang yang berhijrah dari kejahatan. Dan mujahid yang sebenarnya ialah orang yang memerangi hawa nafsunya."
Apabila seseorang menjalankan sesuatu tindak maksiat, maka sebenarnya ia melakukan maksiat itu dengan menggunakan anggota badannya. Orang yang seperti ini sejatinya telah menyalahgunakan nikmat anggota tubuh  yang telah dianugerahkan Allah pada dirinya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan, ia telah berkhianat atas amanah yang telah diberikan kepadanya.
Setiap kita berkuasa penuh atas anggota tubuh kita, pikiran dan jiwa kita. Akan tetapi, terkadang, kita begitu susah menggendalikan apa yang menjadi ‘milik kita’ itu. Tangan, mata, kaki dan anggota tubuh yang lain, kerap bergerak diluar kendali diri, yang tak jarang bertentangan dengan idealisme atau nilai-nilai keyakinan  yang kita anut dan kita yakini. Padahal, rekuk relung kalbu  kita bersaksi bahwa semua anggota tubuh itu, kelak  akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di Padang Mahsyar. Firman Allah SWT : "Pada hari ini (Kiamat) Kami tutup mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan (di dunia dahulu)." (Q.S. Yassin:  65).

Bagaimana Agar Kita Selamat Dari Maksiat?

Di bawah ini beberapa ikhtiar, yang bila dijalankan secara sungguh-sungguh, insya Allah membawa faedah.

1. Menjaga Mata
Peliharalah mata dari menyaksikan pemandangan yang diharamkan oleh Allah SWT seperti  melihat perempuan yang bukan mahram. Hindari, atau minimal kurangi-- untuk pelan-pelan tinggalkan sejauh-jauhnya--  melihat gambar-gambar yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Termasuk menjaga mata, janganlah memandang orang lain dengan pandangan yang rendah(sebelah mata/menghina) dan melihat keaiban orang lain.

2. Menjaga Telinga
Menjaga telinga dari mendengar perkataan yang tidak berguna seperti: ungkapan-ungkapan mesum/kotor/jahat. Poin kesatu dan kedua ini menjadi tidak mudah di saat di mana gosip telah menjadi komuditas ekonomi. Gosip telah menjadi kejahatan berjamaah yang dianggap hal yang lumrah dilakukan, dan wajib ditonton dan disimak. Kehadirannya disokong dana yang tidak sedikit, dimanajeri, ada penulis skenarionya, ada kepala produksinya, ada reporternya dan seterusnya.
Rasulullah S.A.W. bersabda : "Sesungguhnya orang yang mendengar (seseorang yang mengumpat orang lain) adalah bersekutu (di dalam dosa )dengan orang yang berkata itu. Dan dia juga dikira salah seorang daripada dua orang yang mengumpat."
Oleh karenanya, menjaga mata-telinga adalah pekerjaan yang memerlukan energi dan kesungguhan yang kuat dan gigih.

3. Menjaga Lidah
Lidah adalah anggota tubuh tanpa tulang yang kerap mengantarkan pada perkara-perkara besar. Kehancuran rumah tangga, pertengkaran sahabat karib, hingga peperangan antar negara, dapat dipicu dari sepotong daging kecil di celah mulut kita ini.
Rasulullah Saw. bersabda : “Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya.” (H.R. Athabrani dan Al Baihaqi)
Jagalah lidah dari perkara-perkara seperti berbohong, ingkar janji, mengumpat, bertengkar / berdebat / membantah perkataan orang lain, memuji diri sendiri, melaknat(mncela) makhluk Allah, mendoakan celaka bagi orang lain dan bergurau( yang mengandung memperolok atau mengejek) orang lain.

4. Menjaga Perut
Yang hendaknya selalu di ingat:  perut kita bukan tong sampah! Input yang masuk ke dalam perut akan berpengaruh langsung/tidak langsung terhadap tingkah laku/sikap/tindakan kita. Karenanya, peliharalah perut dari makanan yang haram atau yang syubhat (tidak jelas halal atau haramnya). Sekalipun halal, hindari memakannya secara berlebihan. Sebab hal itu akan menumpulkan pikiran dan hati nurani

5. Menjaga Kemaluan
Kendalikan sekuat daya dorongan melakukan apa-apa yang diharam kan oleh Allah SWT. Firman Allah-Nya: "Dan mereka yang selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau apa-apa yang mereka miliki (daripada hamba jariah) maka mereka tidak tercela." (Q.S. Al Mukminun:  5-6)

6. Menjaga Dua Tangan
Kendalikan kedua tangan dari melukai seseorang (kecuali dengan cara hak seperti berperang, atau melakukan balasan yang setimpal). Katakan “stop”, pada tangan, ketika akan bertindak sesuatu yang diharamkan, atau menyakiti makhluk Allah, atau menulis sesuatu yang diharamkan atau menyakiti perasaan orang lain.

7. Menjaga Dua Kaki
Memelihara kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan atau berjalan menuju kelompok orang atau penguasa yang zalim tanpa ada alasan darurat karena sikap dan tindakan itu dianggap menghormati  kezaliman mereka, sedangkan Allah menyuruh kita berpaling dari orang yang zalim. Firman Allah SWT. : "Dan jangan kamu cenderung hati kepada orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh oleh api neraka." (Hud: 113)
Pintu-pintu bagi masuknya maksiat terbuka lebar pada ketujuh anggota tubuh di atas. Pun kunci-kuncinya ada dalam genggaman tangan kita untuk membendungnya. Jadi, semua kembali kepada manusianya. Tentu hamba Allah yang cerdik, adalah mereka yang  mempergunakan amanah tubuh untuk senantiasa berjalan di atas rel keridhaan-Nya.
Akhirul kalam, ada sebuah hadits Nabi mengatakan, “Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya.” (H.R. Abu Ya’li).
Nah, bagaimana dengan kita?

Jumat, 03 Desember 2010

BENCANA INI HANYA MUSIBAH ATAU AZAB?


Bancana datang beriringan datang silih berganti. Tabrakan kereta, bencana Wasior, Gunung Merapi hingga tsunami di Mentawai. Sebelum-sebelum ini, berbagai bencara juga telah menghampiri negeri kita.
Bencana ini tidaklah serta-merta datang tanpa sebuah penyebab. Ada sebuah proses yang dilakukan manusia sehingga bencana ini datang. Demikianlah sunnatullah.
Sebelum risalah Muhammad (Islam) datang, biasanya bencana-bencana tersebut datang dengan bentuk adzab yang ditimpakan Allah kepada hambanya yang ingkar, namun semenjak di utusnya nabi Muhammad, adzab ini ditarik sampai hari kiamat sehingga tidak ada lagi bencana yang berupa adzab pada masa sekarang ini. Adapun bencana yang terjadi selama ini (pada umat Muhammad) lebih kepada ujian ataupun peringatan. Inilah salah-satu kelebihan yang diberikan Allah kepada ummat ini.
BENCANA SEBAGAI UJIAN
Ciri-ciri bahwa bencana tersebut merupakan bentuk ujian, yaitu apabila bencana tersebut ditimpakan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah. Bencana tersebut sebenarnya merupakan wujud dari kecintaan Allah yang tertuang dalam sebuah ujian. Sebagaimana sabda baginda rasul, ”Idza ahabba allahu ‘abdan ibtalahu.” (jika Allah mencintai seorang hamba, maka dia akan mengujinya). Tentunya karena bencana ini berupa ujian, maka bencana ini semata-mata datangnya dari Allah tanpa campur tangan manusia. Adapun berbentuk ujian Allah disesuaikan dengan kemampuan para hambanya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… “ (al-Baqarah: 2/286).
Logika gampangnya, seperti halnya ujian yang dilaksanakan di sekolah-sekolah untuk kenaikan kelas. Ujian biasanya berlaku untuk siswa yang layak mengikutinya dan bentuk ujiannya disesuaikan dengan kemampuannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswanya, dan supaya siswa tersebut sadar akan kemampuannya. Demikian juga ujian Allah yang diberikan kepada hambanya, Allah akan menguji sejauh mana ketaatan hamba padanya, apakah hamba tersebut bisa lulus dengan ujian tersebut apakah tidak, disinilah kemudian jika hamba tersebut lulus maka Allah akan mengangkat derajatnya.
BENCANA SEBAGAI TEGURAN
Bencana yang berbentuk teguran yang terjadi di muka bumi ini tidak bisa dipungkiri bahwa itu adalah disebabkan ulah manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia….” (ar-Ruum: 30/41).
Namun bentuk ulah manusia yang bagaimana sehingga bisa menimbulkan kerusakan? Disinilah kemudian kita perlu runut mejelaskan tahapan-tahapan ulah manusia yang menyebabkan terjadinya kerusakan dan bencana.
Ada dua kemungkinan yang bisa menjadi penyebab kerusakan alam ini yaitu pertama disebabkan manusianya yang tidak patuh dengan fungsinya sebagai ‘abid (hamba) atau, yang ke dua adalah karena tidak bertanggung jawab dengan statusnya sebagai kholifah (yang ditugasi untuk menjaga, merawat, dan mengurus bumi Allah).
Kesholehan sebagai ‘abid (hamba) yang patuh terhadap segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah  adalah tujuan awal dari diciptakannya manusia. Kepatuhan hamba kepada sang pencipta sangat  berpengaruh kepada kesholehan manusia yang juga mengemban misi kekhalifahan.  Bagaimana mungkin hamba yang tidak bisa mengurusi dirinya sendiri di hadapan Allah bisa mengurusi benda lain yang dititipkan Allah padanya berupa tumbuh-tumbuhan dan kekayaan alam ini?
Kalau boleh jujur kita sebenarnya masih belajar menjadi hamba yang sholeh, berusaha melakukan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Namun hal ini masih belum teraplikasi pada wilayah horizontal dan masih jarang kita temukan ummat yang sudah masuk pada wilayah kesholehan sosial. Padahal, segala kewajiban yang diperintahkan Allah sebenarnya ada pesan untuk menjadi manusia yang sholeh, baik antara hubungannya yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal (hablun minallah wa hablun minannas).
Ketika Allah memerintahkan shalat, maka implikasi dari shalat tersebut adalah untuk memperbaiki jati diri sebagai manusia itu sendiri.
“Sesungguhnya sholat mencegah ke-kejian dan kemungkaran.” (al-ankabuut:29/45).
Dengan kesholehan manusia tersebut, stabilitas dan eksistensi alam ini akan tetap terjaga. Demikian juga dengan kewajiban-kewajiban yang lainya seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya, semuanya berimplikasi pada kesholehan sosial. Oleh karena itu, pencemaran lingkungan seperti buang sampah sembarangan, asap rokok dan lain sebagainya yang bisa meningkatkan polusi dan menyebabkan terjadinya global worming adalah bukti bahwa masyarakat kita masih belum menjadi sosok hamba dan kholifah yang sholeh. Kita seringkali hanya menjadi hamba yang melakukan ibadah sekedar rutinitas keseharian tanpa memahami makna sebuah ibadah, dan juga kurang memperhatikan kebersihan lingkungan di sekitar kita. Disinilah kemudian ketika salah satu fungsinya sebagai hamba atau kholifah tidak dilaksanakan, maka Allah akan menurunkan bencana berupa teguran.
Tentunya teguran atau peringatan tidaklah sedahsyat sanksi/adzab. Namun dengan teguran yang berupa bencana ini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya bentuk adzab Allah jika tegurannya sudah seperti ini .
BENCANA NEGERI INI TERMASUK YANG MANA?
Ujian sebagaimana yang telah disebutkan di atas lebih kepada kasih sayang Allah kepada hambanya untuk mengangkat derajat hamba tersebut. Tentunya bencana itu bisa dikategorikan sebagai ujian apabila masyarakat Indonesia patuh kepada ketentuan Allah, di mana masyarakatnya ahli ibadah dan peduli pada alam.
Di sisi lain, bencana tersebut akan dikatakan sebagai sebuah teguran atau peringatan ketika masyarakatnya sudah jauh dari hukum Allah dan kurang peduli terhadap lingkungan. Sekarang mari kita koreksi bangsa kita ini, apakah bencana yang selama ini datang silih berganti merupakan bentuk ujian atau jangan-jangan ini sudah merupakan bentuk teguran?
Kalau bencana yang selama ini terjadi adalah sebagai bentuk ujian, apa benar tempat-tempat yang terkena bencana tersebut dihuni oleh orang-orang yang ibadahnya sudah bagus dan peka terhadap lingkungan?
Namun, jika bencana ini mau dikategorikan sebagai teguran, kenapa yang sering terkena bencana adalah tempat-tempat yang kalau kita lihat sekilas adalah tempat-tempat yang tidak terlalu banyak kemaksiatan? Sedangkan tempat yang sering kita lihat dengan kemungkarannya kok tenang-tenang saja. Atau jangan-jangan selama ini di tempat terjadinya bencana juga terjadi kemungkaran tapi tertutupi, atau walaupun masyarakatnya ahli ibadah tapi kesholehan sosialnya kurang. Atau jangan-jangan tempat-tempat kemaksiatan yang selama ini masih tenang-tenang saja hanya tinggal menunggu gilirannya?
Masih banyak pertanyaan yang perlu disodorkan perihal bencana yang menimpa bangsa ini. Di sini penulis lebih cenderung mengatakan bahwa bencana yang terjadi selama ini sudah merupakan bentuk teguran dari Allah atas kelalaian kita, baik statusnya sebagai hamba maupun sebagai kholifahnya.
Penulis berharap bahwa anggapan ini salah. Penulis yakin, pembaca bisa menyimpulkan sendiri perihal bencana yang terjadi di negeri kita tercinta, negeri Indonesia. Wallahu a’lam

Rabu, 01 Desember 2010

JANGAN PUTUSKAN TALI SILATURAHIM


Manusia adalah mahluk sosial yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahim harus dilaksanakan dengan baik.
Sesungguhnya silaturahim merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah SWT memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan izin Rabb-nya.
Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini.
Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahim. Bukankah silaturahim merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia?
Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan perantaraannya, dan merata rasa cinta. Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada orang yang tidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali, kebaikan yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima.

LARANGAN MEMUTUS

Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahim dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad :22-23).
Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’:1).
Silaturahim merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, apa bila kita melaksanakan perintah tersebut disamping kita mendapatkan pahala juga akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang sangat banyak sekali, diantara keutamaan tersebut adalah :
1.      Silaturahim merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya.
Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim". (HR Bukhori dan Muslim)
2.      Silaturahim adalah penyebab bertambah umur dan luas rizqi.
Dari Abu Hurairah RA ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim." (HR Bukhori dan Muslim)
3.      Silaturahim menyebabkan adanya hubungan Allah SWT bagi orang yang menyambungnya.
"Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk, hingga apabila Dia SWT selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan.' Dia SWT berfirman: 'Benar, apakah engkau ridha bahwa Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? Ia menjawab, 'Bahkan.' Dia I berfirman, 'Itulah untukmu.'
4.      Akan selalu berhubungan dengan Allah SWT.
Dari Aisyah RA berkata, Rosulullah SAW bersabda, "Silaturahim itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
5.      Silaturahim merupakan salah satu penyebab utama masuk surga dan jauh dari neraka.
Dari Abu Ayyub al-Anshari RA, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi SAW bersabda : "Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim." (HR Bukhari dan Muslim)
6.      Silaturahim merupakan ketaatan kepada Allah SWT dan ibadah besar, serta petunjuk takutnya hamba kepada Rabb-Nya, sehingga ia menyambung tali silaturahim tatkala Allah SWT menyuruh untuk disambung.
Firman Allah SWT : "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk." (QS. Ar-Ra'd :21)
7.      Silaturahim merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT.
Dari seorang laki-laki dari Khos’amm berkata: “Saya mendatangi Rasulullah SAWsedangkan beliau sedang bersama salah seorang sahabatnya, aku berkata: kamu mengaku bahwa engkau adalah Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: “iya”, aku bertanya: amalan apa yang paling dicintai Allah SWT. Beliau menjawab; “Beriman kepada Allah SWT ”, aku bertanya lagi, kemudian apa lagi ? beliau menjawab : “kemudian menyambung silaturahim”. (HR Abu Ya’la dengan sanan Jayyid)
8.      Sesungguhnya ganjaran silaturahim lebih besar dari pada memerdekakan budak
Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits r.a., bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi SAW sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: “Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: "Apakah sudah engkau lakukan?" Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu." (HR Bukhori dan Muslim)
9.      Di antara besarnya ganjaran silaturahim, sesungguhnya sedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain
Dari Salman bin 'Amir RA, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahim." (HR Tirmidzi)
Demikian pula dengan hadits Zainab ats-Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas'ud RA, ketika ia pergi dan bertanya kepada Nabi SAW: “Apakah boleh dia bersedekah kepada suaminya dan anak-anak yatim yang ada dalam asuhannya? Maka Nabi SAW bersabda: "Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan dan pahala sedekah." (HR Bukhari dan Muslim)

ANCAMAN MEMUTUS SILATURRAHIM

Sebaliknya apabila meninggalkan silaturahim maka akan mendapatkan ancaman dan akibat yang diperoleh. Di antara ancaman memutuskan silaturahim adalah:
1.      Tidak akan diterima amalnya
Dari Abu Hurairah RA berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya perbuatan anak cucu adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahim.” (HR Ahmad)
2.      Akan terputus hubungannya dengan Allah SWT.
Rosulullah SAW bersabda, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya," [HR. Bukhari, dan Muslim].
3.      Tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah SWT dan hari akherat.
Karena salah satu tanda keimanan seseorang adalah senantiasa meghubungkan silaturahim.
4.      Akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam.
Allah SWT berfirman : “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan Mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). “(QS Ar’Rad : 25)
“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(QS Muhammad 22-23)
5.      Tidak masuk surga
Dari Jubair bin Mut’im RA sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan.". Sufyan berkata : “yaitu yang memutus hubungan tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah beberapa keutamaan bagi orang yang melakukan silaturahim dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya